banner 728x250

4 Penjual Senjata dan Amunisi ke KKB Dituntut 8 hingga 12 Tahun Penjara

  • Bagikan
Menampilkan para tersangka kasus penjualan senjata dan amunisi kepada KKB di Papua, Kapolresta Pulau Ambon Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang memberikan keterangan, Selasa (23/2/2021). (FOTO: IST)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Empat terdakwa kasus jual beli senjata api dan amunisi ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua dituntut bervariasi mulai delapan hingga 12 tahun penjara.

Para terdakwa yang dituntut penjara oleh jaksa penuntut umum adalah Ridwan Mohsen Tahalua (44), Handri Morsalim (43) dan  Andi Tanan (50) masing-masing dituntut delapan  tahun penjara dan terdakwa Sahrul Nurdin (39) dituntut 12 tahun penjara.

Selain empat warga sipil tersebut, JPU juga menuntut dua oknum Polri, San Herman Palijama alias Sandro (34) dan Muhammad Romi Arwanpitu alias Romi (38) dalam kasus yang sama masing-masing 10 tahun penjara.

Sidang agenda pembacaan tuntutan dipimpin ketua majelis hakim Pasti Tarigan di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (19/5/2021). “Meminta kepada majelis hakim memvonis para terdakwa dengan pidana penjara yang telah disebutkan secara lengkap dalam amar tuntutan,” kata JPU Eko Nugroho.

Sidang virtual itu para terdakwa tidak dihadirkan dalam persidangan. Mereka diwakili oleh kuasa hukum Thomas Wattimury cs.

JPU menilai empat terdakwa tersebut  terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama, yakni menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan  senjata api dan amunisi tanpa hak sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Pasal 338  jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Hal yang memberatkan para terdakwa karena perbuatan mereka telah meresahkan masyarakat. Perbuatan para terdakwa dengan menjual senjata dan amunisi ke KKB telah merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu terdakwa, Sahrul Nurdin merupakan residivis yang sebelumnya juga pernah terlibat dan dihukum dalam kasus yang sama.  “Sedangkan hal yang meringankan para terdakwa mengaku menyesal dan mengakui kesalahan mereka,” ujar JPU.

Kasus penjualan senjata api ke KKB di Papua terbongkar setelah warga berinisial J ditangkap oleh aparat Polres Teluk Bentuni, Papua Barat, Rabu (10/2/2021).

Atas perintah Kapolda Maluku Irjen Pol Refdi Andri, Polda Maluku berkoordinasi dengan Polres Teluk Bentuni untuk menyelidiki kasus itu.

Lokasi transaksi pembelian tiga pucuk senjata api itu terjadi di Kota Ambon. J datang ke Kota Ambon untuk membeli tiga pucuk senjata api tersebut dari kedua terdakwa.

Setelah penyelidikan dilakukan, polisi menangkap enam terdakwa, dua diantaranya anggota Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, San Herman Palijama dan Muhammad Romi Arwanpitu.

Tidak cukup di situ, Praka MS, anggota TNI Yonif 733/Masariku juga ikut terlibat. Oknum TNI AD itu masih diproses di Danpom XVI/Pattimura. (MSS)

  • Bagikan