banner 728x250

Kuasa Hukum Nilai Penangkapan Aktivis HMI Salahi Prosedur

  • Bagikan
Risman Solissa, mahasiswa Universitas Pattimura diperiksa penyidik Polresta Pulau Ambon. (FOTO: ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Risman Wahab Solissa, mahasiswa Universitas Pattimura, terancam hukuman enam tahun penjara. Tersangka pidana ujaran kebencian ini dibekuk polisi, Minggu (25/7/2021).

Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ambon ini telah mendekam di Rutan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Penangkapan Risman dinilai menyalahi prosedur hukum dan terkesan dipaksakan.

“Penangkapan klien kami tidaks sesuai prosedur dan seakan-akan dipaksakan,” kata Firduas via telepon seluler, Selasa (27/7/2021).

Risman ditangkap setelah menyerukan demo pencopotan Presiden Joko Widodo, gubernur Maluku dan wali kota Ambon melalui media sosial.

Menurut Firdaus penangkapan kliennya itu dilakukan polisi tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan aspek hukum.

“Klien kami ditangkap seperti seorang teroris. Tidak ada surat penangkapan, nanti setelah klien kami tiba di Polresta barulah disodorkan surat penangkapan,” kata Firdaus.

Saat penangkapan terjadi, Risman bahkan tidak sempat memakai alas kakinya. Dia dinaikan ke atas mobil dan dibawa ke Mapolresta Pulau Ambon.

Menurut Firdaus, sesuai prosedur, sebelum melakukan penangkapan, polisi seharusnya membawa dan menunjukkan surat perintah penangkapan.

“Ini kan delik aduan, harusnya setelah pihak yang merasa dirugikan dengan postingan itu melapor ke polisi klien kami dipanggil dulu untuk dimintai keterangan, tapi kan tahapan itu tidak ada langsung penangkapan tanpa surat perintah penangkapan,” ujarnya.

Firdaus yang juga Ketua Badko HMI Maluku-Maluku Utara ini menilai dalam kasus tersebut polisi terlalu memaksakan penangkapan terhadap kliennya. Sebab kliennya hanya memposting seruan demo, malah ditangkap.

“Setelah kita baca surat penangkapan itu memang penangkapan ini dipaksakan. Jadi ada upaya pembungkaman, ini tidak sehat untuk demokrasi,” kata Firdaus.

Firdaus bersama LBH Muhamadiyah Maluku akan melakukan pembelaaan hukum terhadap Risman. ”Kita akan kawal kasus ini sampai tuntas,” tegasnya.

Risman Soulissa ditangkap sejumlah polisi di kawasan Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Minggu malam (25/7/2021).

Dia ditangkap setelah memposting dua gambar berisi seruan aksi unjuk rasa mencopot Presiden Joko Widodo, gubernur Maluku dan wali kota Ambon.

Polisi menjerat tersangka dengan Pasal 45A sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat 3 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 14 ayat 2 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana. (MMS)

Penulis: MEHMET SALAHUDINEditor: YANTO
  • Bagikan