banner 728x250

Murad-Michael Dikecam Aktivis Perempuan, Closing Statement Debat Paslon Disoroti

SELEBARAN PROVOKATIF
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku, Murad Ismail-Michael Wattimena. (ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku Murad Ismail-Michael Wattimena dikecam aktivis perempuan dan anak.

Closing statement atau pernyataan penutup paslon nomor urut 2 itu dalam debat perdana Pilgub Maluku dinilai merendahkan kaum perempuan.

Debat paslon digelar KPU Maluku di The Natsepa Hotel, Sabtu (25/10/2024). Debat terbuka diikuti paslon nomor urut 1 Jefry Apoly Rahawarin-Abdul Mukti Keliobas, nomor urut 2 Murad Ismail-Michael Wattimena, dan nomor urut 3 Hendrik Lewerisa-Abdulah Vanath.

Closing statement paslon tagline 2M itu dikecam Direktur Yayasan Parakletos Maluku, Elsye Syauta Latuheru. Kecaman diposting di akun TikTok @ongen.tifa.maluku. Video berdurasi 1 menit 52 detik marak dibagikan di media sosial dan viral. 

“Saya dipercayakan tadi mengikuti debat pasangan calon gubernur Maluku tahap pertama, sangat meriah dan baik, namun ada satu hal yang cukup membuat kesedihan karena ada closing statement dari pasangan calon nomor urut 2 yang mengajak menusuk pilihan pada nomor dua tapi ada dengan sepenggal kalimat yang menurut saya yang kalau ini ditanggapi cukup berdampak,” kata Elsye.

Elsye heran, Paslon Murad-Michael gunakan diksi “yang di tengah itu sedap” pada closing statement. Pernyataan itu dapat diartikan negatif dan dinilai merendahkan perempuan. “Salah satu pernyataannya adalah pilih nomor dua karena di tengah itu sedap. Itu bahasa yang menurut kami tidak etis, kenapa? Penekanan kalimat sedap itu kalau diartikan secara negatif itu seakan-akan merendahkan perempuan,” kecamnya dalam video yang tayang, Senin (28/10/2024).

Padahal kata dia, debat Pilgub adalah ruang publik yang terbuka. Harusnya pemilihan diksi yang lebih baik dan sopan, karena ada aturan dalam melaksanakan debat harus sopan. “Kenapa harus memilih kata-kata yang bisa membuat bias, membuat pandangan dan tafsiran yang bisa saja negatif,” tegasnya.

CLOSING STATEMENT
Direktur Yayasan Parakletos Maluku, Elsye Syauta Latuheru. (ISTIMEWA)

Elsye tegaskan, perempuan jangan disakiti dengan pandangan atau pernyataan seperti itu. “Itu tidak baik menurut kami. Jadi sekali lagi ini penyesalan kami bahwa ternyata di ruang publik masih menggunakan kata-kata yang tidak etis untuk mengajak kita meramaikan pesta demokrasi ini,” sentil Elsye.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram