BULA, SENTRALTIMUR.COM – Angka stunting di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku melonjak signifikan.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), SBT kini berada di angka 35 persen dari 27 persen. Lonjakan ini mendorong Pemda SBT mengintensifkan intervensi untuk menekan lonjakan kasus stunting.
Wakil Bupati SBT, M. Miftah Thoha Rumarey Wattimena menegaskan kenaikan angka stunting bukan data yang bisa dibanggakan, melainkan alarm bagi semua pihak untuk bertindak.
“Angka stunting kita naik 35 persen dari 27 persen, itu artinya naik sekitar 8 persen. Data ini tentu bukan data yang membanggakan, ini data yang harus kita intervensi secara masif,” tegas Wattimena saat rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di ruang kerjanya, Senin (1/9/2025).
Ketua TPPS SBT ini menegaskan lonjakan kasus stunting menjadi pekerjaan rumah atau PR dan atensi bersama diperkuat melalui intervensi program. “Bapak, ibu pimpinan OPD saat ini kita kerja ekstra untuk menurunkan angka ini. Saya minta lebih serius lagi dalam intervensi program dan rencana aksi yang akan kita lakukan ke depan,” tegas Vitho sapaan Wattimena.
Tujuan rakor TPPS adalah untuk memperkuat koordinasi, sinkronisasi, serta integrasi program dan kegiatan dalam percepatan penurunan stunting secara holistik dan berkelanjutan. Rakor ini juga menjadi wadah evaluasi atas capaian tahun sebelumnya serta penyusunan strategi baru untuk tahun 2025.

Kepala Bappeda dan Litbang SBT, Mirna Derlen dalam arahannya menyampaikan diperlukan tindaklanjut yang konkret dan terukur untuk memastikan implementasi program pencegahan dan percepatan penurunan stunting berjalan optimal sesuai target prevalensi stunting di SBT tahun 2025.
Rakor menyepakati rencana tindaklanjut yang telah disepakati, antara lain, pertama, melaksanakan penguatan koordinasi lintas sektor melalui kegiatan rakor dengan agenda monitoring dan evaluasi sehingga tersusun roadmap kerja lintas sektor yang saling terintegrasi.




