PT Nindya Karya bersama anggota konsorsium lainnya Petrosea Indonesia dan ETI Indonesia telah memenangkan pekerjaan early works proyek Masela dari SKK Migas dan INPEX.
PT Nindya Karya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang konstruksi, EPC, dan investasi, serta merupakan anggota Holding Danareksa.
BUMN ini fokus pada lima pilar bisnis: konstruksi, energi, manufaktur, properti, dan jalan tol. Nindya Karya berpartisipasi dalam berbagai proyek strategis nasional.
Sebelumnya, PT MEA telah menjalin kerja sama dengan PT Ship Management Indonesia (SMI). Direktur Utama PT SMI Susilo Anggit Wiwoho dan Direktur Utama PT MEA Sam Latuconsina menandatangani MoU di Jakarta pada Selasa (16/12/2025) lalu.
Kedua pihak sepakat menjalin kerja sama komersil dalam lingkup penyediaan layanan terintegrasi untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi Migas di wilayah Maluku.
Tentang Blok Masela
Proyek Gas Abadi Blok Masela merupakan salah satu proyek strategis nasional dengan nilai investasi mencapai USD 20,94 miliar atau setara Rp 342 triliun.
Melansir tempo.co, proyek ini diperkirakan menyerap lebih dari 12.600 tenaga kerja pada tahap pengembangan, sementara pada tahap operasi akan melibatkan sekitar 850 pekerja.
Blok Masela terletak di Laut Arafura dengan luas area 4.291,35 km persegi. Lokasinya sekitar 800 km di sebelah timur Kupang, Nusa Tenggara Timur, atau 400 km di utara Darwin, Australia, dengan kedalaman laut 300–1000 meter.

Secara administratif, proyek LNG Abadi akan berpusat di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Infrastruktur utama meliputi dua train kilang LNG darat berkapasitas total 9,5 juta ton per tahun, jaringan pipa gas domestik, serta fasilitas ekspor LNG.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Blok Masela memiliki cadangan gas mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF). Lapangan Gas Abadi ditargetkan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik gas pipa per hari (MMSCFD), serta 35 ribu barel kondensat per hari.




