banner 728x250

3 Hari Pasca Gempa, Ratusan Warga SBB Masih Mengungsi di Hutan

PASCA GEMPA
Bupati SBB Asri Arman bersama pimpinan OPD terkait meninjau lokasi pengungsian warga yang menempati tenda-tenda darurat di Kecamatan Amalatu, Senin (7/7/2025). (ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Tiga hari pasca gempa 4,9 magnitudo di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, ratusan warga di Kecamatan Amalatu masih mengungsi di sejumlah titik lokasi pengungsian, Senin (7/7/2025).

Warga terdampak gempa masih bertahan di tenda-tenda darurat di beberapa kawasan pegunungan dan dataran tinggi karena gempa susulan masih terus dirasakan hingga saat ini. “Kita masih di lokasi pengungsian, belum bisa balik karena gempa masih terus terjadi,” kata warga Desa Latu Ahmad Patty kepada sentraltimur.com via telepon, Senin.

Banyak rumah retak akibat rentetan gempa di wilayah itu, sehingga warga masih khawatir kembali ke rumah. “Kita tunggu situasi normal baru kembali, karena kita juga takut rumah-rumah banyak yang sudah retak,” ujarnya.

Selama tiga hari mengungsi di lokasi pengungsian, warga hanya tidur beralaskan terpal tanpa selimut dan alat penerangan. Warga membutuhkan uluran tangan pemerintah daerah. “Kita berharap pemerintah bisa kasih selimut dan kalau boleh ada penerangan di dalam tenda, kita tidur dalam kondisi gelap terus,” ungkapnya.

PASCA GEMPA
Ratusan warga di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat tidur di tenda di lokasi pengungsian, Minggu (6/7/2025). (ISTIMEWA)

Camat Amalatu Rafly Alydrus yang dihubungi mengakui hingga saat ini masih ada ratusan kepala keluarga yang mengungsi di sejumlah lokasi pengungsian di Desa Latu dan Tomalehu. “Saat ini sebanyak 314 kepala keluarga  masih mengungsi. Untuk Desa Latu itu ada 264 kepala keluarga dan Tomalehu 50 kepala keluarga,” kata Rafly kepada sentraltimur.com.

Banyak warga terus mendirikan tenda darurat di hutan dan pegunungan karena gempa susulan masih terus terjadi dan dirasakan getarannya. “Tadi malam juga ada gempa dan itu dirasakan getarannya di sini,” ujarnya.

Terkait alat penerangan yang dikeluhkan para pengungsi, Rafly telah menyampaikannya kepada Pemerintah Kabupaten SBB. “Saya kemarin sudah sampaikan ke Pak Sekda dan akan disiapkan mesin genset untuk penerangan, tapi itu untuk yang mengungsi di sekitar Puskesmas kalau yang jauh di pegunungan belum,” ungkapnya.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram