banner 728x250

Soroti Konflik Antara Desa di Maluku, Gubernur Ingatkan Masyarakat Menjaga Kearifan Lokal

GUBERNUR SOROTI
Dialog serap aspirasi yang dihadiri tokoh agama, lembaga sosial keagamaan, mitra kementerian agama dan anggota Komisi VIII DPR RI digelar di kantor Gubernur Maluku, Selasa (29/4/2025). (ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Beberapa konflik yang terjadi belakangan ini di Maluku termasuk antar warga desa bertetangga, bukanlah soal agama. Agama dan perdamaian haruslah berbanding lurus.

Karenanya peran tokoh agama, lembaga sosial keagamaan dan sejenisnya sangat penting dalam mengelola multikulturalisme yang ada dengan tetap bersandar pada akar budaya Maluku, yaitu semangat siwalima dan falsafah hidup orang basudara sebagaimana tercermin dalam kearifan lokal seperti budaya pela gandong, larvul ngabal, ain ni ain, ikapela dan sebagainya.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyampaikan hal itu dalam arahan tertulisnya yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM Samuel E Huwae dalam “dialog serap aspirasi tokoh agama, lembaga sosial keagamaan dan mitra kementerian agama”.

Dialog yang diinisiasi Komisi VIII DPR RI, Pemerintah Provinsi dan Kanwil Kementerian Agama Maluku digelar di lantai 7 kantor Gubernur Maluku, Selasa (29/4/2025).

Hendrik menuturkan bahwa Maluku pasca krisis sosial dibangun dalam frame peace and trust building, di mana setiap elemen agama mengemban tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan perdamaian yang sejati dan membentuk relasi yang saling percaya dalam masyarakat.

“Tidak dipungkiri kerukunan agama di negeri ini telah ada sejak dulu dan menjadi warisan turun temurun. Agama, bahkan sudah ada sebelum bangsa ini merdeka,” ujar eks anggota DPR RI ini.

Hendrik melanjutkan, 25 tahun lalu krisis sosial di Maluku pernah terjadi, itu hanyalah gesekan kepentingan antara pihak-pihak yang sengaja menggunakan dan memanfaatkan sentimen agama sebagai sarana mencapai tujuan. “Sebab jauh sebelum semua itu terjadi, para leluhur kami sangat menghargai dan menghormati agama sebagai rahmat dan anugerah besar yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa bagi manusia,” kata Ketua DPD Partai Gerindra Maluku itu.

Hendrik mengutip ucapan Hans Kung, teolog asal Swiss yang mengatakan bahwa tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama. Dan tidak ada perdamaian antar agama tanpa adanya dialog antar agama agama.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram