banner 728x250

Terkejut Tsunami di Tehoru, BMKG Perbaiki Sistem Peringatan Dini

Tim Survey BMKG Ambon mendatangi lokasi longsoran laut saat gempa magnitude 6,0 pada Rabu (16/6/2021). Longsoran ini diduga kuat menjadi pemicu tsunami kecil dan lokal setinggi 0,5 meter di kecamatan Tehoru, kabupaten Maluku Tengah. (FOTO: Twitter/@DaryonoBMKG)
banner 468x60

BANDUNG, SENTRALTIMUR – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merancang sistem peringatan dini baru untuk tsunami. Sistem yang dinamakan peringatan dini tsunami non tektonik (inaTNT) itu berbasis pemantauan muka air laut.

“Sehingga diharapkan deteksi dini ini dapat menjadi peringatan di pantai,” kata Daryono, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Senin (21/6/2021).

Data pemantauan pasang surut air laut berasal dari alat yang dipasang Badan Informasi Geospasial (BIG). BMKG menurut Daryono bisa mengakses data realtime dari jaringan alat itu.

“Meskipun stasiun Tide Gauge dikelola oleh BIG tetapi terhubung secara realtime di ruang operasional InaTEWS room BMKG,” ujarnya dilansir dari tempo.co.

Prosedurnya, menurut Daryono, setiap petugas Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) BMKG diminta selalu siaga memantau data muka air laut itu setiap kali didapati ada sinyal seismik atau gempa. Data kondisi pasang surut air laut itu, Daryono menjelaskan, masih bisa memberi peringatan bagi pantai yang jaraknya lebih jauh dari sumber gempa.

“Sehingga informasi terkait tsunami akibat gempa tektonik dan non tektonik atau non seismik dapat diinformasikan secara cepat sebagai peringatan dini,” kata dia.

https://ec82af699dac64726e59eb56f28322a6.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html Sebelumnya, saat gempa 6,0 M mengguncang Pulau Seram di Maluku Tengah, Rabu 16 Juni 2021, sistem peringatan dini BMKG keliru menyatakan nihil potensi tsunami. Nyatanya, beberapa menit dari kejadian gempa itu, tsunami datang sekalipun yang tertinggi hanya setengah meter. Belakangan diketahui diduga disebabkan longsoran pantai.

Adapun pusat gempa hari itu berada di perbatasan pantai dan laut di Teluk Teluti. Petugas BMKG setempat yang menemukan bukti longsoran di pantai daerah Tehoru pascagempa yang diduga menyebabkan tsunami.

“Kami baru mengidentifikasi teluk-teluk yang memiliki jalur sumber gempa aktif di wilayah Indonesia,” kata Daryono menerangkan penemuan itu.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram