banner 728x250

Warga 2 Desa di Maluku Tenggara Sepakat Akhiri Konflik

  • Bagikan
Pemasangan sasi adat dan doa bersama menandai berakhirnya bentrokan antara warga desa Elat dan Bombai kecamatan Kei Besar, kabupaten Maluku Tenggara. (FOTO: ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Warga desa Elat dan Bombai kecamatan Kei Besar, kabupaten Maluku Tenggara (Malra) yang sempat terlibat bentrok sepakat mengakhiri pertikaian.

Kesepakatan perdamaian kedua desa itu ditandai dengan upacara pemasangan hawear atau sasi adat perdamaian oleh tim dewan adat Kepulauan Kei.

Selanjutnya warga kedua desa juga menggelar doa bersama dipimpin oleh tokoh agama Islam, Katolik dan Kristen. Doa bersama berlangsung di dua tempat berbeda, yaitu di desa Elat dan desa Erlarang Ratshap UB Ohoi Faak, Kecamatan Kei Besar, Malra, Sabtu (17/12/2022).

Pemasangan sasi adat dan doa bersama menandai berakhirnya bentrokan yang ikut melibatkan sejumlah desa di wilayah tersebut.

Selain dihadiri tokoh adat, agama dan pemuda dari desa-desa yang terlibat bentrok, kesepakatan damai  juga dihadiri Bupati Malra M. Thaher Hanubun, Kapolres Malra AKBP Frans Duma, Dandim 1503 Tual Letkol Inf Arfah Yudah Prasetya, Danlanal Tual Kolonel Laut Indra Darma dan Danlanud Tual Letkol Pnb Ruli Surya.

Hadir pula Ketua MUI Maluku Abdullah Latuapo, Uskup Diosis Amboina Mgr. Seno Ngutra, Ketua Klasis Kei Kecil, dan para raja yang tergabung dalam dewan adat Kepulauan Kei .

Hentikan Pertikaian

Bupati Thaher Hanubun mengatakan doa bersama dan pemasangan sasi adat untuk menghentikan pertikaian antara warga dua desa yang bertikai. “Siapa saja yang merasa bahwa dia anak negeri ini ketika sumpah adat dilakukan dan dilanggar biarkanlah sampai matahari tenggelam dan membawa dia dan keluarganya,” tegas Thaher .

Pemasangan sasi adat ini bukanlah sasi batas tanah. Namun sasi adat perdamaian yang dibuat oleh raja agar jangan ada lagi perkelahian atau pertikaian. “Sasi ini akan dipasang di dua tempat secara resmi. Di antaranya di Ngurmas Yamlim, dan satunya lagi di Erlarang. Dan acara adat ini tidak boleh sampai matahari tenggalam,” ujarnya.

Dengan ritual adat sasi perdamaian, siapa pun yang melanggar janji atau kembali berkonflik akan mendapat sanksi adat berupa denda harta sesuai pelanggarannya.

Sasi adat itu juga mengatur setiap warga apabila melanggar sumpah adat akan ditimpa sakit, musibah bencana bahkan meninggal dunia.

Selain itu, apabila ada warga yang melanggar sumpah adat akan berhadapan dengan seluruh masyarakat Kei.

Ini Harapan Kapolda

Kapolda Maluku Irjen Pol Lotharia Latif menyampaikan apresiasi atas kesepakatan damai melalui pelaksanaan sidang adat yang digelar oleh lapisan masyarakat di wilayah tersebut.

  • Bagikan