AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Maluku semakin mengganggu aktivitas masyarakat. Dampaknya mulai mengganggu aktivitas warga, mulai dari sekolah, penerbangan, jarak pandang di jalan hingga kualitas udara.
Asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua serta sejumlah wilayah di Maluku, termasuk Pulau Buru dan Pulau Seram. Kondisi ini diperparah dengan terdeteksinya puluhan titik panas yang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
Sejumlah wilayah yang terdampak kabut asap meliputi Kota Ambon, Kabupaten Buru, Buru Selatan (Bursel), Maluku Tengah (Malteng), Seram Bagian Timur (SBT), Seram Bagian Barat (SBB), Maluku Tenggara (Malra), Kota Tual, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar.
Kabut asap mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Pattimura Ambon sejak Kamis (8/10/2026). Sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan atau delay, bahkan beberapa di antaranya dibatalkan akibat keterbatasan jarak pandang.
Legal Compliance and Stakeholder Relations Department Head Bandara Pattimura Ambon, Rahmat Sugeng Widiananda mengatakan gangguan penerbangan masih terjadi hingga Senin (12/10/2026).
“Untuk hari ini masih terdapat beberapa penerbangan yang delay, namun ada beberapa penerbangan yang sudah cancel,” kata Rahmat dikutip dari Tribunnews Ambon.
Sejumlah rute penerbangan yang mengalami pembatalan meliputi Namrole (NRE) di Kabupaten Bursel, Wahai (WHI), Bandanaira (NDA) di Malteng, serta Sanana (SQN) di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara.
Menurut Rahmat pembatalan dilakukan oleh pihak maskapai dengan mempertimbangkan faktor keselamatan penerbangan. Kabut asap yang membatasi jarak pandang membuat kondisi penerbangan pada rute tertentu tidak memungkinkan.
Siswa Dipulangkan Lebih Awal
Kabut asap juga menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten SBT. Meski aktivitas masyarakat masih berlangsung, beberapa sekolah mengambil langkah antisipatif dengan memulangkan siswa lebih awal.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap peserta didik, terutama ketika kondisi udara di sekitar lingkungan sekolah dinilai kurang mendukung kegiatan belajar mengajar.



