banner 728x250

Ribuan Warga Leihitu Gelar Tradisi Mandi Safar

RIBUAN WARGA
Ribuan warga mengikuti tradisi Mandi Safar di Pantai Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Rabu (6/10/2021). (FOTO: ANTARA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Ribuan warga Ambon dan sekitarnya menggelar tradisi Mandi Safar di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Salah satu lokasi yang ramai saat Mandi Safar adalah Negeri (desa) Hitu. Masyarakat setempat turun-temurun melaksanakan tradisi Mandi Safar setiap tahun, meski saat pandemi Covid-19.

Ribuan warga, laki-laki, perempuan, orang tua maupun pemuda, serta pendatang dari desa-desa sekitar maupun dari kota Ambon turut serta dan turun ke Pantai Hitu.

“Prosesi (Mandi Safar) ini bersamaan dengan masuk atau siarnya agama Islam. Sudah dilakukan juga di tahun lalu. Kita berupaya meneruskan dari datu-datu atau orang tua kami,” kata Raja Negeri Hitu, Salhana Pelu di pelataran rumah raja Hitu.

BACA JUGA:

Menteri KKP Tinjau Pengolahan Ikan Tuna di Ambon – sentraltimur.com

PT Waskita Karya Raih Kontrak Rp460 Miliar, Tangani Banjir Rob – kliktimes.com

Mandi Safar telah menjadi tradisi sejak ratusan tahun silam di sebagian besar daerah di Indonesia yang merupakan mayoritas muslim. Namun, di Maluku terutama di jazirah Leihitu, Mandi Safar tetap berlangsung dan meskipun saat pandemi pada puncaknya di tahun 2020.

Mandi Safar di Leihitu pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar dalam hitungan tahun hijriah yang jatuh pada 6 Oktober 2021.

Salhana Pelu katakan, tradisi Mandi Safar tahun ini tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab dalam acara ini, semua warga berbondong-bondong turun ke pantai untuk mandi di air laut yang sudah didoakan.

“Tidak ada bedanya sebelum covid dan pada saat covid, suasananya tetap seperti ini. Dan itulah harapan masyarakat juga. Melalui tokoh adat, tokoh agama, kita bisa mendoakan agar terlepas dari wabah,” tutur Salhana Pelu.

Cegah Wabah Penyakit

Ia menjelaskan, Mandi Safar merupakan upaya spiritual ke arah pendekatan diri kepada Allah SWT oleh warganya. Selain itu juga merefleksikan sejarah syiar agama Islam di negeri Hitu. Dan meminta perlindungan agar terhindar dari wabah penyakit berbahaya termasuk Covid-19.

“Tujuannya hanya merefleksikan kejadian yang terjadi di masa lampau. Dan sebenarnya Mandi Safar di tempat lain juga ada. Tetapi sesungguhnya makna Mandi Safar pada Rabu akhir bulan Safar adalah untuk menghindarkan kami warga Hitu khususnya dan warga pulau Ambon agar terhindar dari segala macam wabah termasuk Covid-19,” ucapnya.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram