Menurutnya, saat pandemi Covid-19 ada banyak frekuensi rendah di rumah sakit dan puskesmas, berupa kecemasan, ketakutan, kepanikan dan stress yang membuat kondisi pasien menurun.
“Kondisi inilah yang seharusnya kita ubah di kota kreatif berbasis musik. Bagaimana jika pasien diberi sajian musik dengan intensitas yang baik, volume dengan frekuensi yang tepat dengan frekuensi dirinya sebagai upaya penyembuhan atau pemulihan,” bebernya.
Menurut Loppies, penggunaan musik sebagai alat terapi pasien sudah banyak terapkan di luar negeri, dengan menyesuaikan frekuensi masing–masing pasien.
“Yang saya tahu masing–masing penyakit memiliki frekuensi untuk sembuh. Seperti penyakit jantung ada di frekuensi berapa. Dalam perlakuan musik harus kita mengukur itu, tapi minimal secara umum ada unsur terhibur. Keluar dari ketakuan, dan stress,” tandasnya.
Dia berharap Program Music For Healing ini dapat laksanakan dalam waktu dekat. Selain untuk membantu pasien yang rawat di rumah sakit, juga sebagai inovasi dan terobosan dalam menjaga ekosistem bermusik di kota musik. (MAN)




