Gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) merupakan gas bumi yang didinginkan hingga -162 derajat Celcius, sehingga volumenya menyusut 600 kali lebih kecil. Proses ini membuat LNG lebih mudah disimpan dan didistribusikan. LNG dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik maupun bahan baku industri.
Keunggulannya, LNG lebih ramah lingkungan dengan emisi CO2 yang lebih rendah sekitar 25 persen, NOX berkurang 90 persen, serta hampir tanpa emisi sulfur dan debu.
Profil Blok Masela
Blok Masela terletak di laut Arafura dengan luas area 4.291,35 km persegi. Lokasinya sekitar 800 km di sebelah timur Kupang, Nusa Tenggara Timur, atau 400 km di utara Darwin, Australia, dengan kedalaman laut 300–1000 meter.
Secara administratif, proyek LNG Abadi akan berpusat di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Infrastruktur utama meliputi dua train kilang LNG darat berkapasitas total 9,5 juta ton per tahun, jaringan pipa gas domestik, serta fasilitas ekspor LNG.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut dimulainya proses FEED ini menandai babak baru pengembangan Blok Masela setelah tertunda lebih dari dua dekade. “Kami menargetkan FEED dapat rampung dalam tiga bulan sebagaimana pengalaman proyek ENI yang juga berhasil diselesaikan dalam periode sama,” kata Djoko.
SKK Migas bersama tim terpadu tengah mempersiapkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang ditargetkan selesai pada September 2025. Dengan begitu, Final Investment Decision (FID) bisa ditandatangani awal tahun depan.
Presiden Direktur INPEX Corporation, Takayuki Ueda mengatakan LNG dari Blok Masela akan dipasarkan ke dalam negeri maupun ekspor. Beberapa calon pembeli potensial berasal dari Jepang, Malaysia, Taiwan, hingga China dan Korea.
“Selain Indonesia, ada banyak perusahaan Asia seperti dari China, Korea, Taiwan, dan lainnya. Karena ekonominya tinggi, mereka membutuhkan banyak LNG,” kata Ueda dalam peresmian tahapan desain teknis proyek gas Lapangan Abadi Blok Masela di Jakarta Selatan.





