Namun kabarnya, kepala desa Sawa, kecamatan Lilialy, Buru menolak ajakan memenangkan Widya. Ketidaksukaan terhadap Fahri menjadi alasannya. Menariknya desa Sawa merupakan kampung halaman Fahri.

Lalu apa kata Fahri dan Penjabat Bupati Buru Djalaludin Salampessy? Keduanya kompak membantah kabar tersebut.
“Gak, gak, tidak begitu. Pekerjaan beta di (pemerintah) provinsi (Maluku) itu menyiapkan draft-draft hukum yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah dalam hal ini gubernur, sekda dan seterusnya,” jelas Fahri dikonfirmasi sentraltimur.com melalui sambungan telepon, Jumat (13/10/2023) malam.
Kemudian tugas tim Asistensi dan Pengkajian Hukum lanjut Fahri, adalah sebagai pusat konsultasi hukum terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah.
“Kalau berkaitan dengan tim sukses atau pemenangan (Widya) itu urusan partai politik. Itu urusan PAN,” sergahnya.
Menurutnya informasi itu hanya kabar burung. “Tidak benar, tidak benar. Tim hukum tidak mengurus itu (pemenangan Widya),” kata Fahri.
Senada dengan Fahri, Djalaludin juga menepis tuduhan itu. “Informasi untuk memenangkan (Widya) katong (kami) penjabat bupati atau ASN tidak boleh (terlibat politik praktis). Seng (tidak) ada pak gubernur perintahkan seperti itu,” ujarnya. (ANO)
Ikuti berita sentraltimur.com di Google News




