banner 728x250

Menelisik Akar Masalah Konflik Negeri Sawai, Masihulan dan Rumah Olat

NEGERI SAWAI
Abdul Mikat Ipaenin, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Negeri Sawai. (ISTIMEWA)
banner 468x60

Masyarakat Rumah Olat pun tidak terima dengan aksi ini akhirnya memalang jalan rute Negeri Sawai ke Desa Olong. Sekadar informasi desa Olong merupakan daerah perluasan dari Negeri Sawai yang letaknya di semenanjung teluk dalam Seram Utara yang notabene merupakan masyarakat Sawai, dapat diakses melalui jalan dusun Rumah Olat.

Pemalangan jalan ini dilakukan sekitar tiga hari. Masyarakat Olong dan Sawai dibuat marah dan tertekan mengingat jalur ini merupakan jalur ke Olong, Sawai dan jalan utama lintas Seram, terlebih di momen lebaran masyarakat sangat berkepentingan untuk mobilisasi barang dan kebutuhan serta menjalin silaturahmi kepada sanak saudara di Sawai dan beberapa desa lainnya di sebelah timur seperti Desa Administratif Besi dan Desa Administratif Kilo lima.

Pada 3 April 2025, sekitar pukul 08.00 WIT, beberapa masyarakat Olong dan Sawai berinisiatif memberitahukan masyarakat Rumah Olat untuk membuka pemalangan jalan. Tetapi sangat disayangkan aksi ini mendapat perlawanan bukan dari masyakat Rumah Olat saja, melainkan juga dari masyarakat Masihulan. Tindakan ini tidak dapat diterima masyarakat Sawai akhirnya sekitar pukul 10.30 WIT pertikaian pun tak dapat dihindari. Bentrokan antarwarga Sawai dengan warga Masihulan dan Rumah Olat pun terjadi.

5. Konflik dan Pasca Konflik

Dalam konflik ini sekitar 65 rumah warga Masihulan terbakar, dan sekitar 15 bangunan tidak terbakar yaitu gereja, fasilitas kesehatan dan sekolah.

Sementara sekitar sembilan warga Sawai terluka terkena tembakan dari senapan. PS Panit Intelkam Polsek Wahai, Polres Maluku Tengah Bripka Husni Abdullah gugur akibat tertembak saat menjalankan tugas mencoba meredam bentrokan warga.

BENTROK WARGA
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Kapolda Maluku, Pangdam XV/Pattimura, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir menyampaikan pesan perdamaian saat bertemu masyarakat Negeri Sawai, masyarakat Desa administratif Masihulan dan Dusun Rumah Olat, Jumat (4/4/2025). (ISTIMEWA)

Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dengan sigap mengerahkan aparat kepolisian dan anggota Batalyon Infanteri 731/Kabaresi untuk menghentikan pertikaian.

Bupati Zulkarnain Awat Amir dan Wakil Bupati Maluku Tengah Mario Lawalata yang datang di lokasi bentrokan melakukan pertemuan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk mendamaikan warga.

Pemkab Maluku Tengah memberikan bantuan berupa sembako dan tenda sementara untuk masyarakat Masihulan terdampak konflik. Keesokan harinya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa didampingi Pangdam dan Kapolda Maluku datang menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan memberikan bantuan. Pesan damai ini berseliweran di jagad maya.

6. Pesan Khusus

Istilah Hapuama selama ini sudah tertanam di jiwa dan hati anak Negeri Sawai yakni hidup orang basudara, bahkan Hapuama memiliki arti menekankan kasih sayang tanpa memandang suku, ras dan agama manapun.

Sebagai putra Sawai, lahir dan besar di Negeri Sawai, penulis sangat menyayangkan sikap dan pilihan Kepala Desa Administratif Masihulan dan Kepala Desa Administratif Opin; Yondri Patalatu dan Agustinus Lapatui bersedia menjadi saksi Negeri Huaulu, padahal Desa Administratif Masihulan dan Opin sendiri berada di bawah wilayah Petuanan Negeri Sawai dan merupakan pelepasan dusun dari Sawai yang sejarahnya cukup jelas.

Khusus kepada institusi kepolisian dan TNI harus lebih cepat melakukan tindakan pencegahan, seharusnya dalam konflik ini aparat keamanan sudah bisa melakukan tindakan pencegahan sejak dini untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. (***)

Ikuti berita sentraltimur.com diĀ Google News

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram