banner 728x250

Evakuasi Dramatis 2 Ibu Hamil Menuju RSUD Bula: Terjang Gelombang hingga Digotong Lewati Jembatan Rusak

EVAKUASI DRAMATIS
Petugas medis dan warga evakuasi dua wanita hamil dari Pulau Gorom menuju RSUD Bula, kabupaten Seram Bagian Timur, Minggu (24/8/2025). (ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Proses evakuasi dua wanita hamil, warga kecamatan Pulau Gorom menuju RSUD Bula, kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku berlangsung dramatis dan penuh risiko.

Kisah memilukan dialami dua pasien dari RSUD Goran Riun, kecamatan Pulau Gorom diawali saat evakuasi menuju RSUD Bula, Minggu (24/8/2025). Kedua pasien harus dirujuk menuju RSUD Bula di ibu kota kabupaten SBT lantaran tidak adanya dokter spesialis dan peralatan medis yang memadai.

Proses evakuasi berlangsung dramatis lantaran untuk bisa sampai di RSUD Bula, kedua pasien harus rela dibawa dengan speedboat menyeberangi ganasnya laut dan diterpa gelombang tinggi selama berjam-jam.

Tak sampai di situ, kedua pasien juga harus digotong warga hingga nyaris terjatuh saat menyeberangi jembatan rusak di Kian Darat.

Kedua pasein mulai dirawat di RSUD RSUD Goran Riun sebelum perayaan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2025 lalu. Dua wanita hamil yang tidak disebutkan identitasnya itu berasal dari Desa Samboru dan Desa Kulgowa, Pulau Gorom.

“Dua ibu hamil itu masuk ke RSUD Goran Riun sebelum 17 Agustus. Satunya dari Desa Samboru dan satunya lagi dari Desa Kulgowa,” kata Direktur RSUD Gorom Riun Bahrum Rumadaul via telepon kepada sentraltimur.com, Senin (25/8/2025).

Menjalani perawatan di RSUD Goran Riun, tenaga kesehatan telah melakukan tindakan penanganan medis dengan maksimal. Namun lantaran tidak adanya dokter spesialis dan fasilitas kesehatan yang belum memadai, kedua ibu hamil tersebut harus dirujuk ke RSUD Bula.

Menurutnya dokter umum yang menangani kedua pasien menemukan bahwa keduanya ternyata punya penyakit lain yang harus segera ditangani. “Pasien dari Kulgowa itu juga darah tinggi sementara pasien dari Samboru itu mengalami kehamilan ektopik karena itu disarankan untuk aborsi. Jadi penanganan dua masalah ini harus dengan dokter spesialis,” ujarnya.

Menjadi masalah, RSUD Goran Riun tidak memiliki dokter spesialis kandungan. “Hanya untuk paruh waktu saja, tapi untuk dokter tetap belum ada dan untuk fasilitas medis juga kita masih minim karena itu tidak bisa lakukan bedah kandungan,” kata Bahrum.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram