banner 728x250

Gubernur Maluku Murad Ismail Luncurkan Gerakan Kalesang Negeri

  • Bagikan
Gubernur maluku murad ismail
Gubernur Maluku Murad Ismail didampingi Wakil Gubernur Barnabas Orno menekan tombol menandai dimulainya Gerakan 11 September Maluku Indah (GSMI) Kalesang Negeri, di kawasan Pohon Puleh, Kota Ambon, Sabtu (11/9/2021). GSMI Kalesang Negeri akan berlangsung hingga 30 September 2021. (FOTO: ANTARA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Gubernur Maluku Murad Ismail meluncurkan Gerakan 11 September Maluku Indah (GSMI) Kalesang Negeri. Peluncuran berupa aksi bersih sungai pada lima daerah aliran sungai (DAS) di Kota Ambon.


“Gerakan ini untuk membangun dan menumbuhkan kesadaran seluruh masyarakat untuk mencintai dan peduli terhadap lingkungan,” katanya, saat meluncurkan gerakan tersebut di kawasan Pohon Puleh, Kota Ambon, Sabtu (11/9/2021).


Peluncuran GSMI bersamaan dengan perayaan HUT ke-60 Gubernur Maluku Murad Ismail pada 11 September 2021, sekaligus merupakan tahun kedua gerakan tersebut.

SGMI Kalesang Negeri bertema “lingkungan bersih, masyarakat sehat, ekonomi tumbuh” menitik beratkan pada aksi bersih sungai. Tidak saja oleh komunitas peduli sungai, tetapi semua komponen masyarakat untuk terjun langsung membersihkan sungai mulai dari hulu hingga ke hilir.


Aksi Kalesang Negeri atau peduli kampung, tidak hanya di Kota Ambon, tetapi juga di 10 kabupaten/kota lainnya di Maluku. Inisiasi oleh Komunitas Peduli Sungai di masing-masing daerah, serta 70 kelompok peduli sungai di Indonesia menyaksikan melalui virtual.

“Saya ingin Gerakan Kalesang┬áNegeri ini tidak sekedar di tataran permukaan saja. Tetapi benar-benar menyentuh dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Bersihkan Sungai



Khusus aksi bersih sungai perlu terus rutian setiap saat karena selain sungainya menjadi bersih dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Dan juga mencegah terjadinya banjir saat musim hujan tiba.

“Keberadaan sungai-sungai di Maluku ini sangat penting. Semua komponen harus terlibat untuk menjaga, memelihara dan merawatnya. Jangan asal uang sampah ke sungai. Jika tidak peduli suatu saat sungainya meluap dan menggenangi pemukiman,” katanya.


Murad mencontohkan beberapa sungai besar di Pulau Seram yang airnya meluap saat musim hujan menyebabkan jembatan rusak atau putus, sehingga membutuhkan anggaran besar memperbaiki atau membangun jembatan baru.



Karena itu, menurut Murad, Kalesang Negeri yang dahulu menjadi ciri khas orang Maluku, harus kembali dan menjadi jati diri seluruh masyarakat dalam menjaga dan memelihara lingkungan sekitarnya.

Gerakan tersebut tidak perlu muluk-muluk, tetapi mulai dari kebiasaan memungut sampah dan membuangnya pada tempatnya. Mengingat saat ini sampah juga dapat menjadi barang berharga dan memberikan pendapatan baru bagi orang yang peduli.

“Saat ini budaya peduli sampah tidak terlihat. Anak-anak saja tidak akan memungut sampah yang berserakan. Alasannya bukan mereka yang membuangnya. Mari Baku kele (gergandengan tangan) demi kelestarian lingkungan di Maluku Maluku,” ujar Murad.


Siaran Virtual 10 Kabupaten/Kota


Ketua Panitia Pelaksana GSMI Kalesang Negeri Justus Pattipawae mengatakan aksi tersebut tersiarkan secara virtual di 10 kabupaten/kota di Maluku termasuk ikut disaksikan oleh komunitas peduli sungai se-Indonesia yang tergabung dalam gerakan restorasi sungai seluruh Indonesia.



GSMI Kalesang Negeri dilakukan dengan aksi bersih dari hklu ke hilir pada lima Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Ambon yakni DAS Batu Gantung, DAS Batu Gajah, DAS Waitomu, Das Hatukau atau Batu Merah dan DAS Wairuhu dengan menggerakkan 43 kelompok peduli sungai (KPS) di Ambon.



Sebanyak 43 KPS juga akan melakukan aksi warna-warni dengan pemasangan pesan edukasi kepada masyarakat yang bermukim di bantaran lima DAS tersebut, termasuk komitmen mereka untuk peduli dengan sungai.



Selain itu, berbagai komponen masyarakat juga akan melibatkan diri dalam aksi bersih TPU dan rumah ibadah yang akan berlangsung hingga 30 September 2021. (ANT/RED)

  • Bagikan