“Kita tidak bisa pungkiri bahwa hari ini, banyak anak-anak kita yang sudah tidak lagi mengerti, bahkan tidak menggunakan Bahasa Moa dalam keseharian mereka. Ini adalah sinyal peringatan bagi kita semua. Salah satu penyebabnya adalah karena proses pewarisan bahasa tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ungkap Kilikily.
Revitalisasi bahasa daerah bukan hanya sekadar program pelestarian melainkan upaya memastikan Bahasa ibu tetap hidup, digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan diturunkan kepada generasi berikutnya.
Program ini dapat membantu Pemda MBD untuk terus melestarikan bahasa Moa. Misalnya, melalui pembuatan regulasi penggunaan bahasa atau muatan lokal sekolah. “Saya mengajak semua peserta bimbingan teknis pengajar utama agar mengikuti dengan penuh semangat, antusiasme, dan penuh komitmen. Sebab keberhasilan program ini ada ditangan kita semua. Menyerap materi yang disampaikan fasilitator akan menjadi kunci utama keberhasilan program ini,” ujar Kilikily. (RED)




