Menurut Lisdyarita keberhasilan dan pengalaman Ambon dalam membangun ekosistem musik, mengelola identitas kotanya dapat menjadi referensi berharga bagi Ponorogo untuk semakin mengoptimalkan seni Reog sebagai kekuatan budaya daerah.
“Ekosistem musik di Kota Ambon sangat hidup dan menyatu dengan aktivitas masyarakat,” puji Lisdyarita.
Ia menjelaskan, pelestarian Reog Ponorogo selama ini terus dilakukan melalui regenerasi seniman serta pengenalan kesenian tersebut sebagai muatan lokal di lingkungan pendidikan. “Nilai plus kita adalah Reog Ponorogo sudah resmi menjadi warisan budaya takbenda dunia,” katanya.
Sementara itu, Bodewin mengatakan Pemerintah Kota Ambon terus memperkuat pendidikan seni melalui kurikulum berbasis sekolah, penyelenggaraan festival tahunan seperti Festival Ukulele, serta peran Ambon Music Office (AMO).
“Sejak usia sekolah, anak-anak sudah dilatih bermain ukulele dan mengikuti festival ukulele,” tandasnya.
Di luar sektor budaya, Bodewin menyambut baik gagasan kerja sama antardaerah melalui program kota saudara atau sister city dalam lingkup domestik. Menurutnya, kerja sama antardaerah di Indonesia memiliki keuntungan dari sisi aksesibilitas, jarak, dan efisiensi logistik.
Ia mengungkapkan, Kota Ambon sebelumnya juga mendapat tawaran menjalin kerja sama sister city dengan Kota Boston, Amerika Serikat. Namun, ia menilai kerja sama dengan daerah lain di Indonesia juga perlu menjadi prioritas untuk membuka peluang kolaborasi yang lebih mudah dijangkau.
“Untuk apa kita jauh-jauh menjalin sister city dengan kota di luar negeri yang lokasinya jauh dan membutuhkan biaya akomodasi yang tidak sedikit. Lebih baik kita juga menjalin sister city dengan daerah-daerah di Indonesia,” ujar Bodewin.

Meski demikian, kerja sama antarkota bukan hal baru bagi Ambon. Pemerintah Kota Ambon telah menjalin hubungan sister city dengan Pemerintah Kota Vlissingen, Belanda, sejak 1996 hingga saat ini.



