Pendidikan dan peningkatan ekonomi keluarga menjadi faktor penting dalam memastikan terpenuhinya gizi anak. “Jika ekonomi keluarga kuat, kebutuhan nutrisi bayi pasti terpenuhi. Namun bila belum, pemerintah harus hadir dengan langkah mitigasi dan program pemberdayaan,” tegas Vanath.
Vanath mengajak seluruh pihak menjadikan gerakan penurunan stunting sebagai gerakan bersama dan berkelanjutan.
Dia mengibaratkan penanganan stunting seperti merawat pohon pala yang produktif karena dirawat dengan baik menggambarkan pentingnya perhatian dan perawatan terhadap tumbuh kembang anak. “Kita tidak perlu banyak anak, yang penting anak-anak kita produktif dan sehat. Anak-anak inilah yang akan menjadi sumber daya manusia unggul menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Pada kegiatan itu juga dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepakatan antara Pemprov Maluku dan BKKBN mengenai peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis kependudukan untuk percepatan penurunan stunting.
Dan nota kesepakatan antara Kepala Perwakilan BKKBN Maluku dengan Kepala BPS Maluku terkait harmonisasi Rumah Data Kependudukan dan Desa Cinta Statistik menuju satu data terintegrasi.
Hal itu sebagai bentuk komitmen bersama untuk mendukung program percepatan penurunan stunting melalui data yang akurat dan kolaborasi lintas sektor. (RED)




