Dalam konteks itu, Hanubun memiliki alasan kuat untuk diperhitungkan. Demokrat Maluku membutuhkan energi baru setelah Elwen Roy Pattiasina menyatakan tidak lagi mencalonkan diri sebagai ketua DPD. Roy berharap muncul kader yang mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Demokrat Maluku. Maka Musda Demokrat 2026 sesungguhnya adalah momentum regenerasi. Dan regenerasi tidak selalu berarti mencari wajah yang paling muda. Regenerasi dapat berarti menghadirkan pengalaman baru, perspektif baru, cara komunikasi baru dan energi baru untuk membesarkan partai.
Hanubun dapat menjadi bagian dari jawaban itu. Bukan karena ia seorang bupati semata, tetapi pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ia telah melewati proses politik yang panjang dan memiliki pengalaman mengelola pemerintahan serta berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat.
Keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme dan aturan organisasi Partai Demokrat. Dukungan DPC, proses penjaringan, mekanisme Musda hingga keputusan DPP adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan seorang kandidat menuju kursi ketua DPD.
Namun dari perspektif kebutuhan Demokrat Maluku hari ini, Hanubun layak diberi ruang untuk tampil. Demokrat tidak boleh sekadar mencari siapa yang paling kuat dalam Musda. Demokrat harus mencari siapa yang paling mampu membuat partai menjadi kuat setelah Musda berakhir. Itulah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya. Sebab kemenangan dalam Musda hanya berlangsung satu hari. Tetapi tanggung jawab memimpin partai berlangsung bertahun-tahun.

Maluku membutuhkan Demokrat yang lebih solid. Demokrat yang hadir di tengah masyarakat. Demokrat yang mampu melahirkan kader-kader baru. Demokrat yang tidak hanya sibuk menghitung suara menjelang pemilu, tetapi bekerja sepanjang waktu untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Dan untuk pekerjaan besar itu, Muhamad Thaher Hanubun pantas dipertimbangkan.




