AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Tim medis Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) belum juga melakukan tracing bagi keluarga yang kontak erat dengan pasien yang meninggal terpapar Covid-19.
RSUD Piru memvonis warga Dusun Ani, Desa Lokki, Kecamatan Huamual inisial LU meninggal positif corona. Keluarga LU dan warga setempat yang tidak terima menghadang petugas dan mengambil paksa jenazah Covid-19 saat akan dimakamkan dengan protokol kesehatan corona, Senin (14/2/202).
Pasca pengambilan paksa jenazah Covid-19 tersebut tim medis belum melakukan tracing dan testing bagi keluarga yang kontak erat dengan LU.
BACA JUGA:
Pelaku Penembakan Warga di Haruku Belum Terungkap, Begini Kata Polisi – sentraltimur.com
Ini Inovasi WhatsApp untuk Voice Note – kliktimes.com
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, dr Adoni Rerung mengatakan tim medis Dinas Kesehatan SBB belum berani melakukan tracing dan testing karena alasan keamanan.
“Iya belum. Tim medis juga masih takut karena suasananya masih panas apalagi warga kemarin melempari petugas saat jenazah akan makamkan,” kata Adonia kepada sentraltimur.com via telepon seluler, Jumat (18/2/202).
Doni mengungkapkan petugas medis di SBB belum berani melakukan tracing dan testing bagi keluarga dan warga yang kontak erat dengan pasien meninggal karena masih trauma.
“Petugas medis belum berani bukan karena suasana duka saja tapi juga soal keamanan jadi mereka masih trauma. Kemarin aparat kawal tapi kejadian itu juga terjadi. Mereka (petugas medis) lempari jadi mereka masih trauma,” kata Doni sapaan Adonia.
Satgas Covid-19 Masih Takut
Dia memastikan tracing dan testing bagi keluarga yang kontak erat dengan pasien meninggal akan lakukan setelah suasana membaik. Namun untuk saat ini tim medis dan Satgas Covid-19 di SBB belum mau mengambil risiko sekecil apapun.
“Kejadian kemarin itu membuat masyarakat tidak suka petugas kesehatan jadi jangan kita ambil risiko dulu,” katanya.




