AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Sebanyak 35 dari 76 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mitra binaan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku terdampak pandemi Covid-19.
“Dampaknya berupa turunnya permintaan, karena memang pandemi Covid-19 ini masyarakat agak sulit keluar rumah (penerapan PPKM),” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Maluku Lukman Hakim, Selasa (31/8/2021).
Dia menjelaskan, 500 UMKM mitra binaan BI di seluruh Indonesia terkena dampak pandemi dan jumlah tersebut mencapai sekitar 67 persen dari total 799 UMKM mitra binaan.
BACA JUGA:
Tolak Pilkades, Warga Desa Kamariang Blokade Jalan Trans Seram – sentraltimur.com
Pemalsu Surat Rapid Antigen di Maluku Dituntut 1,5 Tahun Penjara – kliktimes.com
Dampak pandemi yang menimpa UMKM beragam, di antaranya kesulitan bahan baku, permintaan turun, serta distribusi terganggu karena banyak penerbangan yang tutup sehingga mengganggu kegiatan usaha.
Selama ini UMKM di Maluku masih mengandalkan penjualan secara langsung (offline) sehingga terdampak karena penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).
UMKM yang terkena dampak rata-rata bergerak di bidang usaha produksi makanan dan kerajinan.
“Karena tempat wisata juga banyak yang tutup. Akibatnya wisatawan tidak ada yang datang. Dampaknya cukup terasa bagi para pelaku usaha yang bergerak di kerajinan terutama di tempat-tempat wisata,” ujar Lukman.
Pasarkan Produk UMKM Melalui Online
Dari sisi SDM, BI kata Lukman, memberikan pelatihan untuk UMKM agar punya inisiatif, ide. “Kalau selama ini usaha di bidang kerajinan yang menyuplai tempat-tempat wisata karena permintaan turun, bagaimana bisa beralih ke produk-produk lain? Misalnya makanan, sehingga (UMKM) bisa tetap berkembang,” ujarnya.
Sedangkan dari sisi pemasaran BI Maluku juga membantu UMKM agar bisa menjual lewat online. Mendorong UMKM kerja sama dengan lokapasar (marketplace). Seperti Tokopedia atau di lokal seperti Pigi Pasar dan Ambon Akses. Sehingga UMKM bisa berjualan dengan jangkauan pemasaran lebih baik lagi.




