DINAMIKA politik internal Partai Demokrat Maluku mulai bergeliat menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tahun 2026. Pemilihan ketua DPD partai politik menjadi momen krusial menentukan arah kebijakan, mesin pemenangan pemilu di tingkat regional, serta konstelasi koalisi politik lokal.
Ketua DPD memegang kendali penuh atas struktur partai di tingkat provinsi hingga ranting. Sejumlah nama meramaikan bursa pencalonan ketua DPD Demokrat Maluku jelang Musda, salah satu figur potensial ialah Muhamad Thaher Hanubun.
Rekam jejak pria kelahiran 3 Agustus 1958 sebagai politisi senior memiliki pengalaman panjang di dunia politik dan pemerintahan. Eks anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara dan anggota DPRD Provinsi Maluku. Karier politik mantan guru ini kian cemerlang menduduki jabatan bupati Maluku Tenggara selama dua periode. Pengalaman tersebut merupakan modal politik sekaligus modal kepemimpinan yang tidak dimiliki semua kandidat.
Ketua partai di level provinsi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengelola organisasi. Ia harus mampu membaca peta politik, memahami karakter masyarakat Maluku yang beragam, membangun komunikasi dengan kader, merawat hubungan antardaerah, sekaligus memiliki keberanian mengambil keputusan ketika partai menghadapi persoalan. Di titik inilah Hanubun memiliki keunggulan.
Dua periode memimpin Maluku Tenggara memberikan pengalaman bagaimana pemerintahan bekerja, bagaimana aspirasi masyarakat harus dijawab, dan bagaimana membangun komunikasi dengan berbagai kelompok. Seabrek pengalaman Hanubun menjadi bekal berharga memimpin partai politik sebesar Demokrat.
Maluku membutuhkan kepemimpinan partai yang tidak terjebak pada kepentingan satu wilayah. Geografis Maluku adalah kepulauan. Setiap kabupaten memiliki karakter, persoalan dan kekuatan politik yang berbeda. Karena itu, Ketua DPD Demokrat Maluku ke depan harus mampu menjadi jembatan yang menyatukan seluruh kader, dari Buru sampai Maluku Tenggara, dari Maluku Barat Daya sampai Kepulauan Aru, dari Seram hingga Kota Ambon dan Tual. Hanubun dengan pengalaman sebagai kepala daerah di wilayah kepulauan, memiliki pengalaman sosial politik yang relevan untuk tugas tersebut.
Figur Teruji
Munculnya sejumlah nama sebagai kandidat ketua DPD Demokrat Maluku periode 2026-2031, harus dipandang sebagai sesuatu yang sehat. Kompetisi adalah bagian dari demokrasi internal partai. Namun pada akhirnya Demokrat membutuhkan figur yang bukan hanya populer, melainkan teruji. Figur yang bukan hanya mampu berbicara tentang kemenangan politik, tetapi memahami bagaimana kemenangan itu dibangun dari bawah. Sosok yang mampu merangkul kader, bukan memecah kader. Sosok yang dapat berdiri di tengah ketika terjadi perbedaan. Dan terpenting, figur yang mampu mengembalikan partai politik pada hakikatnya: memperjuangkan kepentingan masyarakat.




