Di Jawa, orang-orang Manado dan Ambon adalah golongan yang kerap dicurigai oleh militer Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, organisasi yang bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API) berdiri, termasuk API Ambon.
“Nama Ambon dipilih sebagai identifikasi minoritas politik yang dianggap berpihak kepada Belanda.
Melalui API Ambon ini, kami akan memperlihatkan identitas suku Ambon yang berhasrat menegakkan kemerdekaan Indonesia dan yang turut membela kemerdekaan Indonesia mati-matian,” tulis Fretes dikutip dari tirto.id.
Nono Tanasale dipilih menjadi Ketua API Ambon, meski tidak lama. Salah satu anggotanya dari kalangan mahasiswa adalah Frans Pattiasina. Belakangan ia berpangkat Brigadir Jenderal yang merupakan dokter Angkatan Darat yang ikut mengautopsi Pahlawan Revolusi.
API Ambon yang pro Republik ikut melindungi orang-orang Ambon. Jalan Kramat VII menjadi tempat penampungan mereka agar aman dari perundungan dan pembunuhan pemuda yang membabi buta dengan mengatasnamakan revolusi kemerdekaan Indonesia.
Fretes menyebut pemuda-pemuda dari Gang Sentiong dan ratusan orang dari Karawang dan Bekasi pernah berusaha mengganggu API Ambon, yang bisa saja membahayakan orang-orang Ambon yang ditampung di sana.
Nono Tanasale kecewa kepada Republik, karena sebagian pendukungnya membuat orang-orang Ambon tanpa dosa jadi terbunuh. Fretes berusaha menenangkannya. Namun, kesabaran Nono telah habis. Kepercayaannya kepada Republik yang tak kunjung bisa melindungi orang-orang Ambon telah tumpas.
Menurut OI Nanulaitta dalam Mr. Johanes Latuharhary, Hasil Karya dan Pengabdiannya (1983:147), pada 23 Desember 1945 Nono akhirnya membelot dari API dan bergabung dengan Belanda.




