Bagi Nono, itu adalah cara untuk bisa terlindungi dan melindungi orang-orang Ambon. Menurut RZ Leiriza dalam Ir. Martinus Putuhena: Karya dan Pengabdiannya (1985:49), Nono ikut merebut markas pemuda Ambon di Jalan Kramat setelah markas itu digempur tentara Sekutu dari militer Inggris. Nono melucuti API Ambon dan mengajak mereka untuk melindungi orang Ambon.
Dalam buku Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Kodam V/Jaya (1974:188) disebutkan, Nono Tanasale mencapai pangkat ajudant (setara pembantu letnan).
Arsip Kabinet Perdana Menteri Republik Indonesia Yogyakarta nomor 155: “Berkas mengenai gerak-gerak gerombolan-gerombolan liar di daerah Bogor dan Karawang Mei-Juli 1950” menyebut: Ajudan Tanasale punya pengikut yang berbuat kekacauan di Jakarta jelang tentara Belanda angkat kaki dan pembubaran KNIL.
Arsip itu juga menyebut bahwa Tanasale adalah Soldadu klas I (prajurit satu) KNIL di Batalion Infanteri ke-10 KNIL di Jakarta. Di awal revolusi, Tanasale disebut ikut membunuh banyak orang Indonesia di Tanah Tinggi, hingga pangkatnya naik, bahkan mencapai ajudan. Namun pada 1950, ada kabar yang menyebut Nono Tanasale masuk TNI dengan pangkat kapten. (TTI/RED)




