banner 728x250

Jadi Korban Kekerasan, Pejuang Ambon Berbalik Dukung Belanda

  • Bagikan
Prajurit Batalyon Infanteri V (KNIL). (FOTO/WIKIPEDIA/TROPEMUSEUM)
banner 468x60

SENTRALTIMUR.COM – Johannes Dirk de Fretes cukup dekat dengan Latuharhary, gubernur pertama Maluku. Dalam buku Kebenaran Melebihi Persahabatan (2007:91) disebutkan, Fretes menjadi saksi ketika militer kolonial yang bernama Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) mendarat di Jakarta dari Tarakan.

Mereka disambut oleh sejumlah koran pro Republik Indonesia yang berita utamanya ditulis dengan huruf-huruf besar dan berjudul “AMBON ANDJING NICA”.

Membaca tulisan itu, Fretes yang merupakan orang Maluku, bersabar dan tetap mantap mendukung Republik Indonesia. Dia bahkan berusaha menenangkan orang-orang Ambon yang marah dengan perundungan yang kerap diikuti pembunuhan oleh para pemuda pro Republik secara membabi buta.

Ya, di masa bersiap, orang-orang Ambon memang kerap menjadi korban kekerasan. Para pemuda yang sering melakukan penyerangan itu antara lain berasal dari Pemuda Pelopor.

Di Makassar, kebencian terhadap orang Ambon juga terjadi. Mayor Jenderal Andi Mattalatta dalam Meniti Siri dan Harga Diri (2014:173) menyebut orang-orang Ambon menjadi sasaran kemarahan massa.

Kemarahan itu tanpa pandang bulu, orang Ambon yang pro Belanda dan yang pro Republik sama-sama punya potensi kena hantam. Pada malam 2 Oktober 1945, puluhan orang Ambon di Makassar terbunuh. Orang-orang di Makassar menyebut peristiwa itu sebagai “pembalasan terhadap kekejaman KNIL Ambon.”

Suatu pagi, Mattalatta bahkan melihat seorang perawat Ambon yang disapa Non Latumahina menjadi korban. Beruntung, perawat pejuang yang ayahnya penasihat Gubernur Sulawesi versi Republik Indonesia, Sam Ratulangi, tidak mati terbunuh.

Lahadjdji Patang dalam Sulawesi dan Pahlawan2nya (1977:174) mencatat, suatu malam para pemuda militan pro Repubik menyantroni perkampungan yang berisi orang-orang Ambon dan melakukan pembunuhan. Seorang pemuda Ambon yang berusaha menenangkan keadaan pun turut menjadi korban.

Setelah kejadian seperti itu, para penyerang biasanya menghilang dan tak tersentuh hukum. Keadaan seperti ini melahirkan dendam di kalangan pemuda Ambon dan tidak heran jika mereka memilih masuk KNIL dan memihak kepada Belanda. Menjadi serdadu yang dilengkapi senjata membuat mereka bisa menjaga diri.

Kisah Nono Tanasale

Pada zaman pendudukan Jepang, Nono Tanasale yang pernah tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta, bernasib sama seperti Latuharhary, yakni pernah ditahan oleh Kempeitai (polisi militer Jepang).

Fretes mengenal Nono sebagai pendiri organisasi jaga malam zaman Jepang yang berpusat di Jalan Raden Saleh. Organisasi itu mirip gerakan bawah tanah anti-Jepang yang menghimpun informasi serta senjata untuk melawan Jepang. Para pemuda bekas KNIL banyak yang jadi anggotanya.

Penulis: TIRTOEditor: REDAKSI
  • Bagikan