banner 728x250

Kisah Irnawati Lanuru, Merintis Usaha Abon Ikan Modal Awal Hanya Rp100 Ribu

  • Bagikan
IRNAWATI USAHA
Irnawati Lanuru merintis usaha abon ikan dari modal awal hanya Rp100 ribu. (FOTO: SENTRALTIMUR.COM)
banner 468x60

IRNAWATI Lanuru tak menyangka keputusannya berhenti dari guru honorer sekolah dasar di kota Masohi, kabupaten Maluku Tengah, provinsi Maluku mengantarnya menggeluti usaha abon ikan tuna.

Datang dari keluarga sederhana dan berbekal pengalaman sebagai Tenaga Kerja Sukarela (TKS) mendampingi wirausaha tahun 2019, Irna memulai merintis usaha abon ikan tuna di tanah kelahirannya, kelurahan Lesane.

Usaha itu mulai ditekuni wanita berusia 39 tahun sejak pertengahan tahun 2019. Tahap awal, Irna dan suaminya Syarif membeli tiga kilogram ikan tuna gelondongan seharga Rp11 ribu – Rp12 ribu.

Selanjutnya diolah dengan peralatan seadanya seperti wajan untuk merangsai ikan, dan Lesung untuk menghaluskan daging ikan dan rempah-rempah. Rempah-rempah yang digunakan dibeli dari petani atau di pasar tradisional Binaya, Masohi.

“Modal awal hanya Rp100 ribu, dari tiga kg daging tuna menghasilkan 10 plastik abon dengan bobot 100 gram, dijual Rp20 ribu per plastik,” tutur Irna di kediamannya RT 11 kelurahan Lesane, Masohi Senin (24/10/2022).

Abon ikan hasil kreasi wanita yang moto hidupnya tekun dan pantang menyerah ini dipasarkan lewat jejaring sosial facebook. Sepekan kemudian, permintaan meningkat dari warga sekitar maupun daerah lain di provinsi Maluku.

“Awalnya abon masih dalam kemasan plastik bening gula pasir, namun seiring banyaknya minat kemasan diganti,” ucapnya.

Untuk memenuhi permintaan masyarakat, Irna memproduksi 10 kg daging tuna dengan kemasan standing pouch bening berstiker. “Setelah mencari informasi kemasan di internet dan teman-teman, kami memilih kemasan alumunium foil,” ujar Irna.

Dia mengakui kemasan sangat berpengaruh terhadap harga dan produksi. Saat ini, abon ikan tuna diproduksi dua kali dalam sepekan atau lima sampai enam kali produksi sebulan mencapai 70 kg daging ikan.

Olahan abon ikan dikemas dalam dua variasi rasa yaitu original dan pedas termasuk ukuran dan harga premium. Kini, brand abon ikan “G & R Masohi Shop” sudah menjangkau swalayan di kota Masohi, Ambon dan beberapa daerah lain Maluku.

Ukuran 100 gram dibandrol senilai Rp25 ribu dan 250 gram Rp56 ribu.¬† “Sudah kantongi izin PIRT, NIB, IUMK, IUI, SITU, SIUP, Halal, BPOM, dan hak merk dari Kementerian Hukum dan HAM RI,” kata Irna.

Pekerjakan Ibu Rumah Tangga

Irna mengatakan usaha kecil menengah yang digeluti ini untuk mendongkrak ekonomi keluarga termasuk membantu masyarakat. Apalagi di masa pandemi covid-19. “Suami saya kerja serabutan, saya hanya guru honor. Kondisi inilah yang memaksa saya dan suami merintis usaha ini,” ucap dia.

Tak diduga, sejumlah ibu rumah tangga dipekerjakan sebagai tenaga kerja dengan upah harian Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Selain menambah pundi-pundi keluarga juga mendukung pemerintah dalam upaya pemulihan akibat pandemi covid-19 yang terdampak pada berbagai sektor kehidupan.

“Sekadar meringankan beban hidup di tengah pandemi covid-19. Sekitar 10 orang ibu rumah tangga jadi tenaga kerja lepas yang diberi upah Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sekali produksi per hari,” kata Irna.

Dia memaparkan keunggulan abon, karena ikan tuna segar diambil langsung dari nelayan,  tanpa bahan pengawet, termasuk rempah-rempah asli Indonesia. Tekstur abon pun tidak terlalu halus sehingga cita rasa ikan tuna tetap terasa.

“Abon ini dapat disimpan hingga tujuh bulan, kemasan pun praktis dan hiegenis,” paparnya. Dalam banyak kesempatan, Irna gencar kampanyekan masyarakat agar gemar konsumsi ikan terutama untuk mencegah stunting.

Namun demikian, upaya itu perlu dukungan teknologi peralatan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar serta penyediaan lapangan kerja bagi ibu rumah tangga dan generasi milenial. “Semoga ada dukungan sehingga G&R Masohi Shop dapat menjawab permintaan pasar dan membuka lapangan kerja,” pintanya.

Kabupaten Maluku Tengah memiliki luas 275.907,00 Km2. Terdiri dari luas lautan 95,80 persen, 14,20 persen daratan, panjang garis pantai 1.375,5295 Km2. Dengan luas lautan itu terdapat potensi sumberdaya perikanan sebesar 835.400 ton per tahun.

Daerah berjuluk Pamahanunusa itu berada pada dua wilayah pengelolaan perikanan (WPP), yaitu WPP 714 laut Banda, dan WPP 715 laut Seram.

Berdasarkan data statistik Dinas Perikanan kabupaten Maluku Tengah tahun 2021, produksi perikanan tangkap yang telah dimanfaatkan sebesar 135.355,60 ton atau 40,50 persen. Didominasi lima komoditas unggulan yakni ikan cakalang, ikan tuna, ikan tongkol, ikan layang dan ikan selar.

Maksimum sustaniable yield (MSY) sebesar 417.700 Ton per tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 334.160 ton/tahun. Potensi sumberdaya hayati perikanan dimaksud terdiri dari pelagis, domersal, dan biota lainnya yang perlu dieksploitasi optimal.

“Dilihat dari besarnya potensi yang tersedia, untuk tahun 2020 telah dimanfaatkan sebesar 134.920,60  atau 40,37 persen dari jumlah tangkapan yang diperbolehkan,” kata Ketua Ikatan Perikanan Maluku, Amrullah Usemahu.

Dinas Keluatan dan Perikanan Provinsi Maluku merilis, tiga kabupaten memiliki kontribusi terbesar untuk produksi perikanan tangkap pada tahun 2018, yakni Kabupaten Aru sebesar 28,57% atau 155.242,24 ton, Maluku Tengah 21,69% atau 117.866,58 ton, dan Kabupaten Maluku Tenggara 15,60% atau 84.759,08 ton.  Sementara jumlah rumah tangga perikanan (RTP) tangkap tahun 2020 sebanyak 15.437 RTP, terdiri dari RTP Tangkap di laut 15.437 RTP dan 24 RTP tangkap perairan Umum.

“Nelayan tangkap kabupaten Maluku Tengah mencapai 29.715 orang, pembudidaya 1.435 orang, pengolah ikan 2.987 orang. Untuk armada perikanan didominasi perahu jukung 5.046 unit, perahu kecil 4.509 unit, perahu sedang 1.834 unit dan perahu besar sebanyak 396 unit,” sebut Usemahu.

Dengan posisi potensi yang berada pada dua WPP ini harus dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat berikut pendapatan asli daerah.

“Nah, potensi ini punya prospek cerah ke depan. Karena itu saya punya mimpi besar agar ikan tuna memiliki nilai jual lebih,” pungkas Irna. (Syaipudin Sapsuha, wartawan sentraltimur.com)

  • Bagikan