Penolakan penutupan sementara semua dapur MBG di SBB menunjukkan BGN mengabaikan keselamatan masyarakat khususnya siswa, namun lebih mengutamkan keuntungan. “Ini nyata sekali mereka tidak memikirkan keselamatan tapi lebih mencari keuntungan,” sindirnya.
Warga lainnya, Sulham sangat menyayangkan sikap BGN yang menolak menutup sementara semua dapur MBG di SBB. Dia mendorong BGN melakukan evaluasi menyeluruh mengapa terjadi keracunan massal siswa di SBB, dan bukan sebaliknya memaksakan kehendak untuk tetap memberikan lampu hijau kepada SPPG beroperasi.

“Itu baru kemarin ada ratusan siswa keracunan, apa mereka mau sampai ada yang mati baru disetop. Harusnya ditutup sementara, lalu dievaluasi, itu kan semua dapur belum punya sertifikat kenapa bisa beroperasi, itu namanya ilegal melanggar aturan,” kecamnya.
Sebelumnya 232 siswa di sejumlah sekolah di Kecamatan Kairatu, SBB mengalami keracunan usai menyantap hidangan MBG pada Senin (20/10/2025).
Hidangan yang disajikan yakni nasi putih, telur, tahu dan sayur. Usai menyantap hidangan, ratusan siswa mengalami gejala mual, muntah, diare dan pusing kepala. Buntut dari kejadian itu, Pemkab SBB menutup sementara operasional seluruh dapur MBG. (MAN)




