Setelah menjalani perawatan medis, puluhan siswa tersebut sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan untuk pulang.
Sementara itu, Dandim 1511/Pulau Moa, Nuriman Siswandi mengungkapkan, pihaknya tengah mengupayakan identifikasi penyebab pasti keracunan dengan mengirimkan sampel makanan ke laboratorium di Ambon untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Evaluasi menyeluruh akan mencakup perbaikan kualitas bahan baku, sterilisasi dapur secara higienis, hingga pengawasan ketat terhadap tenaga masak.
Menurut keterangan medis, kondisi yang dialami para siswa lebih mengarah pada reaksi alergi yang menyerupai keracunan, namun tidak signifikan dan telah tertangani dengan baik.
Ia berharap, kejadian ini dapat dijadikan bahan evaluasi semua pihak sehingga program MBG ini dapat berjalan dengan baik ke depannya.
Ketua DPRD MBD, Petrus A. Tunay berharap sebelum makanan didistribusi, perlu dilakukan pemeriksaan awal sehingga tidak menimbulkan masalah atau kejadian seperti hari ini dengan melibatkan ahli gizi dan tenaga medis lainnya.
“Keberadaan dapur sehat perlu disterilkan kembali dan bahan pangan yang digunakan dapat disortir dengan baik sebelum dimasak dan distribusi ke pelajar. Semoga musibah ini tidak terjadi kedua kalinya,” katanya.
Ia meminta program ini dihentikan sementara untuk evaluasi guna memastikan semua prosedur hingga bahan pangan yang digunakan sudah sesuai dengan yang direkomendasikan. “Pasti musibah ini menimbulkan trauma bagi anak-anak kita dan orang tua, maka kami sarankan dihentikan dulu programnya dan lakukan evaluasi,” harapnya. (RED)




