TIAKUR, SENTRALTIMUR.COM – Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) menginisiasi pembukaan kembali jalur perdagangan lintas negara dengan Indonesia, khususnya Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
Langkah ini diharapkan menghidupkan kembali hubungan dagang yang telah terjalin sejak lama sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.
Inisiatif tersebut dibahas dalam kegiatan Atauro Weekly Export Market di Atauro, Timor-Leste, pada 16 Oktober 2026. Pertemuan itu melibatkan Pemerintah Kabupaten MBD, pelaku usaha, serta masyarakat dari Kecamatan Wetar dan Wetar Barat.
Sekretaris Daerah Kabupaten MBD, Eduard J. S. Davidz menghadiri pertemuan tersebut atas undangan Pemerintah RDTL melalui Kementerian Perindustrian dan Perdagangan.
Kegiatan dibuka Menteri Perindustrian dan Perdagangan RDTL, Filipus Nino Pereira, dihadiri Duta Besar India untuk Timor-Leste, Shri Mahendra Singh Patiyal, dan Kepala Distrik Atauro, Mateus Belu.
Sekda MBD didampingi Kepala Badan Perbatasan MBD, Alexander S. Olivier, Camat Wetar Barat, Frangky Nahakwain, serta pengurus Kadin MBD, Thomas Melaira. Sejumlah kepala desa dan masyarakat dari Wetar dan Wetar Barat juga hadir membawa hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan untuk diperdagangkan dalam pasar ekspor tersebut.
Eduard mengatakan inisiatif Pemerintah RDTL membuka kembali jalur perdagangan tersebut memiliki arti penting karena hubungan masyarakat MBD dan Timor-Leste tidak hanya bertumpu pada kepentingan ekonomi tetapi juga historis, kekerabatan, dan ikatan keluarga lintas negara.
Menurutnya sebelum tahun 1999, Timor-Leste merupakan salah satu pasar bagi produk-produk asal MBD. Karena itu, pembukaan kembali jalur perdagangan diharapkan dapat menghidupkan kembali akses pasar bagi komoditas lokal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Namun, rencana tersebut masih membutuhkan persiapan teknis dan koordinasi antarpemerintah agar perdagangan lintas negara dapat berjalan melalui mekanisme resmi.
“Secara teknis, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Timor-Leste akan bekerja sama dengan kementerian terkait di Republik Indonesia. Sementara itu, Kabupaten MBD diharapkan menyiapkan berbagai instrumen pendukung agar rencana ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Eduard dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).
Komoditas Lokal Dibahas
Dalam pertemuan itu, kedua pihak turut membahas potensi komoditas yang dapat diperdagangkan. Dari MBD, komoditas tersebut meliputi hasil perikanan dan kelautan, seperti ikan, lola, teripang, dan batu laga; hasil perkebunan, antara lain pala, cengkeh, kopra, jambu mete, dan madu; serta produk peternakan berupa sapi, kambing, babi, kerbau, dan ayam.



