AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Kasus keracunan akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia, termasuk Maluku.
Tercatat, ada tiga kasus keracunan MBG di Provinsi Maluku, yakni di Kabupaten Maluku Barat Daya, Kota Tual, dan Kota Ambon.
Rentetan kejadian ini terjadi pada September 2025 dan melibatkan puluhan siswa di sekolah-sekolah yang menerima program tersebut.
Dalam ketiga kasus keracunan tersebut, sejumlah siswa yang menyantap makanan dari program MBG terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Kejadian ini pun mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Ketua DPRD Maluku Benhur Watubun yang mendesak program MBG di Maluku dievaluasi secara menyeluruh.
Menanggapi rentetan kasus keracunan siswa, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa memberikan tanggapannya. Hendrik menekankan bahwa meskipun ada masalah dalam pelaksanaan program MBG, evaluasi yang menyeluruh harus dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan program ini.
“Evaluasi penting dilakukan agar setiap langkah yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat Maluku,” ujar Hendrik kepada wartawan di Ambon, Kamis (25/9/2025).
Ia juga menegaskan bahwa meski ada masalah, program MBG tidak boleh dihentikan karena manfaatnya sangat penting bagi anak-anak dan masyarakat. “Jangan dihentikan, tapi harus dievaluasi. Evaluasi harus menyentuh aspek teknis dan dampak sosial ekonomi agar hasilnya bisa menjadi dasar kebijakan yang lebih komprehensif,” ujarnya.
Hendrik juga menyatakan bahwa program MBG merupakan program pemerintah pusat yang harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, jika ada masalah yang perlu dilakukan adalah evaluasi, bukan menghentikan program tersebut.
“MBG adalah program penting yang patut didukung sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jangan jadikan MBG ini sebagai masalah, tapi jadikan masalah itu sebagai bahan evaluasi,” ujar Hendrik. (MAN)




