banner 728x250

Vakum Belasan Tahun, Tradisi Cakalele Negeri Pelauw Digelar

CAKALELE NEGERI
Ratusan pria dewasa dan anak-anak menampilkan atraksi cakalele di Negeri Pelauw, kecamatan Pulau Haruku, kabupaten Maluku Tengah, Kamis (8/12/2022). (FOTO: TANGKAPAN LAYAR)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Mengenakan busana serba putih dan ikat kepala berwarna putih, ratusan pria dewasa dan anak-anak menampilkan atraksi cakalele atau ma’atenu.

Mereka membawa parang dan benda tajam lainnya menunjukkan kesaktian atau kekebalan. Benda mematikan itu dihujamkan ke tubuh mereka atau ke tubuh peserta atraksi cakalele. Menariknya, dalam tradisi ini tak ada satu pun peserta yang terluka.

Itulah atraksi cakalele di negeri (desa) Pelauw, kecamatan Pulau Haruku, kabupaten Maluku Tengah, provinsi Maluku.

Cakalele merupakan rangkaian pagelaran Festival Budaya Ma’atenu Pelauw yang dilaksanakan 8-9 Desember 2022. Menampilkan atraksi cakalele, ma’alawa hinia huwai dan ma’amara tenun. Festival ini sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi antara masyarakat Pelauw yang berada di Maluku dan tanah perantauan yang pulang ke kampung halamannya menghadiri pagelaran budaya tersebut.

Sebelum mengikuti ma’atenu, peserta menjalani ritual dari tokoh agama dan adat. Prosesi ma’atenu pakapita berlangsung sakral, heroik dan haru ketika peserta keluar dari rumah mereka menuju rumah adat atau soa masing-masing marga.

Mayoritas peserta atraksi budaya cakalele nyaris keserupan atau disebut ‘kapitang naik’. Menampilkan tubuh mereka kebal terhadap senjata tajam.

Prosesi pelaksanaannya terbagi dalam tiga kelompok, menghimpun 13 soa di Negeri Pelauw. Tiga kelompok ini menuju tiga rute yang terdapat keramat, yakni makam para upu (leluhur) yang diyakini sebagai Wali Allah. Yaitu orang-orang suci yang menyiarkan agama Islam.

Rute pertama dikenal dengan keramat Matasiri atau Latu Rima, terdiri atas soa Latuconsina, Sahubawa, Talaohu, Latupono, dan Latuamury. Rute kedua, keramat Waelurui terdiri atas soa Tualepe, Salampessy, Tuakia, Angkotasan, dan Tuankotta. Rute ketiga, keramat Hunimoki atau Waelapia terdiri dari soa Tualeka, Tuahena, dan Tuasikal.

Masyarakat Pelauw tetap melestarikan tradisi ma’atenu, warisan leluhur yang telah berusia ratusan tahun. Memiliki nilai historis, tradisi ini tetap terjaga, diturunkan dari generasi ke generasi.

Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Terakhir ma’atenu digelar Negeri Pelauw pada 2009 lalu. Setelah 12 tahun vakum, tahun ini warisan budaya lokal ini kembali digelar di pekan kedua bulan Desember 2022.

Kapolda & Pangdam Apresiasi

Kapolda Maluku Irjen Pol Lotharia Latif memberikan apresiasi gawe tradisi budaya ini berjalan aman dan lancar. Dia berharap tradisi cakalele terus dilestarikan. “Tradisi yang sempat vakum belasan tahun ini harus terus dikembangkan,” katanya.

Meski terbilang ekstrem, menurut Kapolda, namun tradisi tersebut merupakan hal yang unik dan dapat menarik wisatawan ke Pelauw.

Menurutnya budaya ma’atenu memiliki banyak filosofi. Menunjukan semangat, keberanian, dan persatuan dalam kebersamaan. “Tradisi ini juga bentuk menghormati leluhur dan menumbuhkan nilai-nilai persatuan serta kesatuan,” jelasnya.

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram