Hendrik menegaskan, literasi bukan sekadar soal membaca, tetapi jalan untuk mengangkat harkat hidup masyarakat kepulauan. “Kalau SMA, SMK, SLB di Maluku belum punya perpustakaan, harus diadakan. Dan keluarga-keluarga pun harus mendorong anak-anak untuk belajar di rumah,” pesannya.
Gubernur Hendrik mengajak Pemprov DKI berbagi fasilitas. “Kami harus belajar dari Jakarta, bukan hanya pengetahuan dan pengalaman, kalau bisa juga fasilitas,” kata Hendrik.
Bagi Gubernur Maluku, kehadiran di festival ini bukan sekadar seremoni. “Kami di Maluku menyambut dengan sukacita. Semoga acara ini tidak hanya simbolik, tetapi memberi makna mendalam dan inspirasi nyata. Literasi adalah jalan menuju masa depan yang lebih terang, bagi Maluku dan bagi Indonesia,” pungkasnya.
Jakarta Menyambut Kolaborasi
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan bahwa Jakarta terbuka untuk kolaborasi lintas daerah. “Jakarta adalah pusat interaksi nasional. Dengan taman literasi seperti ini, kami ingin menunjukkan keterbukaan dan kosmopolitanisme kota ini. Hari ini, kita berkolaborasi dengan Maluku, dan ke depan dengan daerah lain,” ujar politisi PDIP ini.
Dia menilai kolaborasi bukan sekadar berbagi buku, tetapi juga berbagi pengalaman, gagasan, dan mimpi. “Gubernur Maluku memberikan tiga buku tentang Banda dan Saparua. Itu menandakan kolaborasi sudah berjalan. Bahkan beliau mengundang saya ke Banda. Saya belum pernah ke sana, mudah-mudahan bisa,” ucap artis senior ini.

Bagi Rano Karno, literasi bermakna lebih dari sekadar membaca. “Literasi adalah membaca, menulis, memahami, lalu bergerak. Dengan literasi, seseorang bisa memberi arah pada hidupnya dan memberi kontribusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Festival literasi ini meneguhkan satu hal, literasi bukan lagi sekadar kegiatan membaca buku, melainkan gerakan sosial yang melibatkan banyak pihak. Kehadiran dua pemimpin daerah, Maluku dan Jakarta menjadi simbol pentingnya jembatan kolaborasi, antara pusat dan daerah, kota besar dan kepulauan, maju dan tertinggal.




