Selama sebulan penuh, kita dididik mengerat syahwat, menapis hasrat. Berpantang diri demi menaati amar Ilahi. Ia juga melatih kita agar berpikir karitatif. Minimal memulihkan arti syukur dalam hidup. Hal ini karena puasa adalah persenyawaan organis antara kesalehan ritual dan sosial.
Selain itu, puasa mendidik kita untuk mengalibrasi kiblat hidup hingga satu-satunya cara agar terbebas sepenuhnya dari penderitaan adalah dengan terbebas sepenuhnya dari keinginan. Selama ini, kita keblinger dengan arus konsumerisme yang berhasil menginjeksikan nafsu borjuisme. Padahal, yang namanya hasrat tak akan pernah puas dan tak pernah lenyap dalam kepungan jebakan fana. Kesenangan pun tak pernah mengenal kata cukup. Hingga satu-satunya hal yang melekat dari ‘kepuasan’ konsumerisme adalah menelan seluruh dunia. Pun, pada hakikatnya ekstase konsumerisme adalah nomadisme, pengembaraan hasrat untuk menikmati tanpa sungguh-sungguh menikmati. Meminjam istilah Marcuse (2007), kita terjebak dimanipulasi oleh kebutuhan hingga terciptalah kebutuhan-kebutuhan palsu. Akibatnya, tak jarang kita memakai aksesori guna mementaskan prestise sosial, bukan lagi mempertimbangkan nilai guna; hal yang betul-betul nihil hikmah.
Muncullah kesadaran palsu bahwa kebahagiaan hidup ditera dengan ukuran materi. Tak mengherankan bila tumbuh benih-benih jiwa yang minim syukur. Akibatnya, kita terjebak pada zona infeksius pengumbaran syahwat yang tak akan pernah tuntas. Yang membuat manusia menggelegak tanpa henti demi mengejar kemewahan.
Bila sudah demikian, biarkan Ramadan menunaikan tugasnya. Meluruskan kekusutan pikiran, terbebani beragam keinginan yang sering diperdayai oleh beragam ambisi. Inilah momen perekayasaan hasrat, meninggikan suara autentik nurani, sembari meminimalkan desakan syahwat. Disebabkan dalam puasa, kita harus mampu mengubah volonte voulante (kehendak yang menghendaki terus) menjadi volonte voulue (kehendak yang dikehendaki). Ia menyapa kita guna menyeimbangkan kehidupan kita yang timpang dan menyimpang.




