banner 728x250
Opini  

Menjemput Berkah Ramadan

Mohammad Farid Fad, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Kendal
banner 468x60

Sekaranglah waktu yang tepat untuk menyuburkan rohani keimanan. Kehadirannya adalah saat yang tepat untuk mengambil interval dari aktivitas keseharian yang penuh riuh. Hidup yang serba diselubungi kata mengejar (atau dikejar?) deadline. Akibatnya, secara konsisten dan terus-menerus, tak sedikit orang membicarakan soal merasa tidak ada waktu dan ketidaksempatan. Tak ada lagi vita meditativa.

Setidaknya inilah saat mengambil jeda dan jarak atas rutinitas hidup setelah sebelumnya larut dalam berebut ‘hidup’, hanyut dalam berhala modernitas yang bernama materi. Tak lupa, dalam puasa, kita juga dididik untuk senantiasa memupuk spirit berbela rasa (Mitleid, compassion). Hingga, kita tak hanya merasa, meminjam etika bela rasa (Mitleidethik) Schopenhauer, bahkan menjiwai bahwa semua makhluk hidup substansinya adalah sama dan tunggal. Inilah waktu yang tepat untuk merobohkan hijab diri, melandaikan kurva ego. Saatnya kita untuk memperkuat solidaritas dan mengencangkan sabuk kohesi sosial. Dalam diri yang lain, aku melihat diriku sendiri. Di samping itu, diperlukan upaya menghidupkan kultur anamnenis, penderitaan orang lain berarti deritaku pula. Inilah wujud kecerdasan spiritual, kecerdasan tertinggi umat manusia. Wallahu a’lam. (*)

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram