RAMADAN kembali hadir menyapa kita di tengah keprihatinan pandemi covid-19. Untuk kedua kalinya kita menyambut Ramadan dengan segala pembatasan sosial, nyaris tanpa festival yang mengatasnamakan syiar.
Di tengah palagan modernitas yang mendewakan mobilitas, tiba-tiba hidup kita diinterupsi oleh predator bionik yang bernama korona. Dalam sekali sambar, tsunami wabah ini meluluhlantakkan kehidupan manusia. Aktivitas perekonomian pun luluh lantak seketika. Namun, sesungguhnya, serangan mikroba ini sedang menempa kita agar tak lelah untuk terus belajar. Bahwa, di antara segenap arogansi serba merasa tahu, kita sebenarnya dikepung pelbagai ketidaktahuan. Di sinilah kita mengerti arti kedaifan. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit (QS 17: 85),” demikian penegasan Allah SWT.
Fenomena covid 19 ini sekaligus membuktikan bahwa peradaban manusia tak pernah imun dari intervensi yang tak terduga. Ruang kehidupan tak pernah mengenal ajek. Karakter wabah ini sungguh mirip dengan nada dasar kehidupan, yakni ketidakpastian itu sendiri. Mutasi demi mutasi terjadi. Hipotesis pun datang silih berganti dan jatuh berguguran seiring waktu.
Tetapi, yang menarik, stamina agama tetap bugar dengan segala penyesuaiannya. Jangkar teologis dan spiritualnya tetap kukuh. Hal ini karena sesungguhnya, meminjam istilah Komaruddin Hidayat, agama punya seribu nyawa, yang berbeda hanya cara beribadahnya. Terbukti, setahun lalu, tanpa kemeriahan pun, berkah spiritualitas Ramadan tak mati kutu. Memperbaiki jarak religiositas Terlihatnya hilal Ramadan merupakan penanda bahwa ritme hidup kita harus bermutasi, mengalihkan gravitasi hidup dari materialisme-hedonis ke spiritualisme-asketis. Di sinilah, saat spiritualitas diternakkan sebulan penuh. Setidaknya memperbaiki jarak religiositas yang selama ini bergerak sentrifugal menjadi sentripetal menuju orbit keilahian.
MEMPERBAIKI JARAK RELIGIOSITAS
Terlihatnya hilal Ramadan merupakan penanda bahwa ritme hidup kita harus bermutasi, mengalihkan gravitasi hidup dari materialisme-hedonis ke spiritualisme-asketis. Di sinilah, saat spiritualitas diternakkan sebulan penuh. Setidaknya memperbaiki jarak religiositas yang selama ini bergerak sentrifugal menjadi sentripetal menuju orbit keilahian.
Setelah 11 bulan lamanya kita merasa imun akan dosa, sekaranglah saatnya kita memvaksinasi keimanan kita. Ramadan hadir bak guru spiritual yang menyediakan balai penggemblengan kerohanian dengan menggunakan living curricululum. Ia semakna dengan purgatorio, penempaan rohani.




