Penugasan tersebut bertujuan menuntaskan tahapan organisasi sekaligus melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan pengurus hingga tingkat kecamatan. “Beta ditunjuk Plt dari DPD I. Selaku Plt, beta diberikan tugas untuk menyelesaikan seluruh tahapan organisasi, melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan teman-teman DPD II hingga tingkat kecamatan. Tahapan itu tidak ada yang terlewatkan,” ujarnya.
Terkait polemik Musda sebelumnya pada 30 April yang kembali disinggung kader dalam aksi protes, Ely meminta agar persoalan tersebut dikonfirmasi langsung kepada DPD I Golkar Maluku.
Ia beralasan, kewenangannya sebagai Plt terbatas sehingga tidak dapat memberikan penjelasan lebih jauh mengenai persoalan tersebut. “Soal Musda 30 April itu silakan tanya ke DPD I. Beta tidak punya hak untuk menjawab karena kewenangan Plt terbatas,” katanya.
Meski menghadapi penolakan dari sejumlah pengurus kecamatan, Ely kembali menegaskan tidak gentar apabila persoalan hasil Musda dibawa ke tingkat DPP Partai Golkar.
Ia menyatakan siap mengikuti seluruh proses penyelesaian sengketa sesuai mekanisme partai. “Siap. Kami siap 100 persen. Katong sudah terbiasa melalui dinamika-dinamika seperti ini,” tandasnya.
Di tengah gelombang protes tersebut, Ely membuka pintu bagi kader yang berbeda pandangan untuk bergabung dalam kepengurusan yang akan dibentuk. Ia menegaskan perbedaan pilihan tidak seharusnya memutus hubungan antarkader maupun menghambat upaya membesarkan partai.
Ely siap mengakomodasi kader yang masih memiliki komitmen untuk membesarkan Golkar di Kota Ambon. Menurutnya, Golkar Kota Ambon membutuhkan konsolidasi internal agar seluruh kader dapat kembali bekerja bersama pasca Musda.
“Kalau mereka masih mau bersama-sama dengan beta, silakan. Nanti kita akomodir. Namanya kader, beda pendapat itu biasa. Beta sangat terbuka menerima teman-teman yang ingin berjalan bersama-sama,” kata Ely. (RED)



