banner 728x250

Lagi Terapi Penyembuhan Penyakit, Guru SD di SBB Tewas Tenggelam

TERAPI PENYEMBUHAN
Polisi dan warga evakuasi jasad korban yang tenggelam di pantai Dusun Talaga, Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Rabu (7/5/2025). (ISTIMEWA)
banner 468x60

AMBON, SENTRALTIMUR.COM – Djanima Husen, ditemukan meninggal dunia mengapung di pantai Dusun Talaga, Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, Rabu (7/5/2025).

Wanita berusia 55 tahun itu merupakan guru SD. Korban tewas tenggelam saat mandi air laut untuk menjalani terapi penyembuhan penyakit darah tinggi dan stroke yang dideritanya.

Kapolsek Huamual Ipda Salim Balami mengatakan, korban ditemukan telah mengapung oleh seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah bernama Aditiya Madehasa saat memancing tak jauh dari lokasi kejadian.

Siswa tersebut sempat melihat korban tercebur lalu beberapa saat kemudian melambaikan kedua tangannya. “Saksi mengira korban sedang berenang, tapi berselang beberapa saat saksi melihat korban tidak bergerak dan terbawa arus dengan posisi mengapung,” kata Salim kepada sentraltimur.com, Rabu.

Melihat korban terapung dan terseret arus, Aditya memberitahukan kejadian tersebut ke salah seorang rekannya, dan selanjutnya dilaporkan ke warga dusun Talaga.

Anggota Polsek Huamual yang mendapatkan informasi mendatangi lokasi untuk evakuasi jasad korban. “Saya bersama anggota, kepala dusun dan Babinsa dibantu warga mengangkat jasad korban lalu kita bawa ke Puskesmas Talaga Kambelu,” katanya.

Hasil pemeriksaan tim medis tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. “Dari hasil pemeriksaan, korban meninggal akibat saluran pernapasan kemasukan air,” ujarnya.

TERAPI PENYEMBUHAN
Jasad korban yang tenggelam dibawa ke Puskesmas Talaga Kambelu di Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Rabu (7/5/2025). (ISTIMEWA)

Salim melanjutkan, dari keterangan anak korban bernama Julham Rifaldi Samal, korban rutin ke pantai untuk berenang untuk terapi penyembuhan penyakit. “Keterangan dari pihak keluarga, korban memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan stroke ringan dan sering berenang di laut untuk terapi penyembuhan,” ungkapnya.

Atas kejadian itu, pihak keluarga menerima dengan ikhlas kepergian korban dan menolak jasad korban diotopsi. “Keluarga korban menolak dilakukan otopsi dan menganggap kejadian tersebut merupakan musibah,” kata Salim. (MAN)

Ikuti berita sentraltimur.com di Channel Telegram